Rabu, 11 Juni 2008

sikap hidup

******Pelajaran Pertama******
Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita yangm menjadi petugas pembersih sekolah ?. Saya yakin soal ini cuma "bercanda".
Saya sering melihat perempuan ini. Tinggi, berambut gelap dan berusiasekitar 50-an, tapi bagaimana saya tahu nama depannya... ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau tidak. "Tentu Saja Dihitung !!" kata si
Profesor. "Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman, atau sekilas "hallo"! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".

******Pelajaran Kedua******
Penumpang yang Kehujanan Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorangwanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yanglewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim ke rumahnya. Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah :
" Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat... hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu"
Tertanda Ny. Nat King Cole.
Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA

******Pelajaran Ketiga******
Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani. Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah, seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya "Berapa ya,... harga satu ice cream sundae?" atanya. "50 sen..." balas si pelayan. Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin di kantongnya....
"Wah... Kalau ice cream yang biasa saja berapa?" katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah mulai banyak... dan pelayan ini mulai tidak sabar. "35 sen" kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya.
"Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja ya..." ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan. Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi. Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat...anak kecil ini tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk memberi sang pelayan uang tip yang "layak" ......

******Pelajaran Keempat******
Penghalang di Jalan Kita.Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari jalan. Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan dari rintangan. Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan menyingkirkan batu itu. Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia berhasil menyingkirkan batu besar itu. Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan. Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.

******Pelajaran Kelima******
Memberi, ketika dibutuhkan Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat jarang. Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang sama. Anak ini memiliki
antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu. Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil nafas panjang dan berkata "Baiklah... Saya akan melakukan hal tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku". Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam
suara yang bergetar...katanya "Apakah saya akan langsung mati dokter... ?" Rupanya si
kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya. Lihatlah...bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya....
Pilihan anda memang cuma 2
1. Jangan Hiraukan bacaan ini ini
2. Forward ke siapa saja yang anda kasihi....
Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang, Mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan, dan Joget & nyanyilah seolah tidak ada yang menonton anda
DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT INDAHNYA BINTANG

Senin, 12 Mei 2008

Kita: Manusia atau Hewan?

Kebanyakan manusia di dunia ini bertingkah laku seperti hewan. Mereka hidup secara bebas, sekehendaknya, semaunya, seenaknya, tidak mau diatur. Mereka memperturutkan logika dan hawa nafsunya, melupakan hukum dan aturan Allah SWT. Jika mereka makan dan minum, mereka tidak peduli mana makanan/minuman yang halal mana makanan/minuman yang haram. Jika mereka berhubungan seksual, mereka tidak malu melakukannya dengan siapa saja. Jika mereka mencari rezeki, mereka tidak ragu melakukan kejahatan seperti mencuri, korupsi dan kolusi.Jika mereka orang kuat; misalnya presiden, menteri, anggota DPR, gubernur, bupati, camat, lurah, mereka tidak membela rakyatnya yang lemah, malah menindasnya. Jika mereka orang kaya, orang terkenal, mereka lupa terhadap orang miskin. Jika mereka orang pintar, orang terhormat, orang kota, mereka melecehkan dan menghinakan orang bodoh, orang miskin dan orang pinggiran.Dalam komunitas hewan, yang kuat biasanya yang menjajah, menguasai dan mengontrol yang lemah. Dalam komunitas manusia juga. Lihat saja negara Dajjal Amerika Serikat. Karena negara itu kuat; punya tentara banyak, senjata canggih, teknologi modern, mereka menjajah, menguasai dan mengontrol negara Afghanistan, Irak, dan lainnya. Negara Israel juga. Negara itu menjajah, menguasai dan mengontrol Palestina. Apa akibatnya kalau manusia sudah bertingkah laku seperti hewan? Jawabannya adalah kerusakan dan kehancuran.Tentang manusia yang seperti hewan, Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat Al A’raf (7) ayat 179 yang artinya:Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka memiliki qulub, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayatAllah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (kebenaran dan kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayatAllah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalaiAhli tafsir Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tadi dengan menyatakan bahwa Allah SWT menyediakan jahannam bagi manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni jahannam. Mereka demikian dikarenakan alat indera yang sebenarnya telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai jalan datangnya hidayah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka. Sebab, mereka itu buta, tuli, dan bisu dari mengikuti petunjuk dari Allah SWT. Mereka yang tidak mendengarkan dan mengikuti kebenaran dan petunjuk (Islam) laksana hewan berjalan yang alat-alat inderanya tadi tidak bermanfaat sedikitpun kecuali untuk perkara-perkara yang diperlukannya secara lahiriyah di dunia. Mereka ketika diseru untuk beriman tidak mengindahkannya. Persis seperti hewan ketika diseru oleh penggembalanya hanya menyahut dengan suaranya saja tanpa memahami makna seruan si penggembalanya tersebut. Bahkan, mereka lebih sesat dari binatang. Binatang diciptakan Allah SWT untuk dipergunakan manusia demi kepentingannya, dan hewan memenuhinya. Sedangkan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, namun manusia malaj kufur kepada-Nya.

Memahami Arti Hidup

Oleh: AzhariPublikasi 12/12/2003
hayatulislam.net – Banyak orang tidak paham untuk apa ia hidup didunia ini, sehingga kehidupannya bebas tanpa batas seperti yang kita lihat dalam masyarakat Barat atau dinegara kita sendiri. Mereka biasa berhubungan seksual tanpa melewati pernikahan, mengambil harta yang bukan haknya, membunuh, menipu, merampok, berpakaian telanjang, makan dan minum yang haram.
Orang-orang seperti diatas disebut tidak memahami arti hidup. Bagaimana seseorang mampu memahami arti hidup?, maka ia harus mampu memecahkan tiga persoalan mendasar berikut:

Dari mana saya berasal?
Untuk apa saya hidup didunia ini?
Kemana saya setelah mati? Darimana saya berasal?

Ini merupakan pertanyaan yang wajar dan sesuai dengan fitrah manusia, bahkan seorang anak kecil-pun akan bertanya dari mana ia sebelum dilahirkan dan paling-paling ibunya menjawab bahwa ia berasal dari perut ibunya. Tetapi kita sebagai manusia dewasa yang berakal tentu tidak akan puas dengan jawaban dari perut ibu kita, untuk itu Sang Maha Pencipta telah memberikan informasi tentang keberadaan kita melalui wahyu-Nya yang tercantum dalam Al-Quran.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (Al-Mukminun 12-14).
(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (mani) (As-Sajdah 7).
Dan banyak ayat dan hadist lain yang menjelaskan bahwa Allah swt yang menciptakan kita, perkawinan, kehamilan dan kelahiran merupakan perantara saja dari proses penciptaan manusia oleh Allah swt. Untuk apa saya hidup didunia ini? Allah swt secara tegas menyatakan bahwa Ia menciptakan kita semata-mata untuk menyembah-Nya, artinya menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah-Ku (Adz-Dzaariyat 56).
Seorang manusia pada saat mencapai baligh, maka semua hukum syara’ (syari’at Islam) terbebani kepada dirinya (taklif). Ia harus tahu perintah yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan. Setiap gerak langkahnya harus diukur dari kacamata syari’at, dia wajib menjalankan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, kewajiban sebagai suami dan istri, kewajiban menutup aurat, makanan yang halal, menghindari mengambil yang bukan haknya (suap, komisi, dan lain-lain.), tidak mengambil riba, kewajiban da’wah, jihad, dan lain-lain.
Mereka bisa saja mengaku beragama Islam tetapi tidak menjalankan perintah agama, bahkan ibadah ritual seperti: shalat, puasa, zakat dan haji-pun tidak dilakukan. Padahal Islam tidak sebatas ibadah ritual semata, Islam mengatur seluruh sisi kehidupan kita, seperti: sistem sosial (mu’amalah), ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), peradilan dan sanksi (‘uqubat), dan lain-lain.
Syari’at Islam melalui Al-Quran dan sunnah tidak akan melewatkan satu hal-pun dalam mengatur kehidupan manusia, karena aturan tersebut datang dari Sang Maha Pencipta yang tahu persis kebutuhan manusia dari dulu, sekarang dan akan datang.
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian (Al-Maidah 3).
Mereka yang memahami arti hidup maka setiap gerak langkahnya dalam mengarungi kehidupan selalu mengacu kepada syari’at, ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat, lebih baik menunda sejenak dalam berbuat sebelum ia tahu persis apakah hal tersebut halal atau haram. Inilah manusia yang bertaqwa dan akan selamat dalam menempuh kehidupan dunia serta beruntung diakhirat nanti.
Orang-orang yang mengabaikan syari’at Allah swt, merekalah orang yang merugi karena mereka telah mengorbankan kehidupan akhirat yang abadi dengan mengutamakan kehidupan dunia yang sementara. Rasulullah saw menganalogikan kehidupan dunia “Bagaikan berteduh sejenak dibawah pohon (dunia) dalam menempuh perjalanan panjang yang abadi (akhirat)”. Kehidupan dunia bagaikan senda gurau belaka yang menyilaukan dan seharusnya akhiratlah tujuan utama kita.
Hai orang-orang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al-Munafiqun 9).
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am 32).
Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya (An-Nazi’at 37-41). Kemana saya setelah mati? Setiap jiwa pasti mati dan jika sudah tiba saatnya (ajal) tidak akan dimajukan atau dimundurkan sedetik-pun, saat inilah sudah terlambat untuk bertaubat.
Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila ajal itu sudah datang tidak dapat mereka meminta diundurkan atau dimajukan sesaat juapun (Al-A’raf 34).
Dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku beramal dahulu untuk hidupku ini” (Al-Fajr 24).
Ketika kita dibangkitkan diakhirat nanti, semua yang kita lakukan didunia akan dihisab satu persatu, tidak terkecuali, dosa kecil maupun besar, pahala kecil maupun besar. Keputusannya hanya dua syurga atau neraka.
Tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya (Al-Mudatsir 38).
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentu kami tidak termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ini” (Al-Mulk 10).
Akhirul kalam, jika kita memahami arti hidup maka kita harus mengutamakan kehidupan akhirat karena dunia ini persinggahan sementara dari perjalanan panjang kehidupan kita. Kehidupan dunia harus digunakan untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan abadi diakhirat nanti.

Paku

Ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah. Hari pertama anak itu telah mamakukan 37 paku ke pagar. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar. Akhirnya tibalah hari di mana anak tersebut sama sekali tidak kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari di mana dia tidak marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki ini akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut. Sang ayah menuntun anaknya ke pagar. Kau telah berhasil dengan baik, anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini.Pagar ini tidak pernah bisa sama seperti sebelumnya.
Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang lalu mencabut pisau itu, tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu tetap ada. Luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.

Yang Pernah Terlupakan

Adakah terkadang terkenang Saat bersama dalam gelak tawa???
Ataukah pernah air mata tumpah bersama tergenang Saat luka mengenang rasa??? Sebentar saja.....atau mungkin sedetik saja......ingatlah bahwa kita telah lupa bahwa kita pernah berjalan bersama ataupun pernah memiliki orang terdekat yang sekarang terlupakan. Sesuatu yang telah berlalu bukan untuk dilupakan tetapi dikenang karena melalui itu segala keberadaan kita dibentuk dari mulai polos sampai dewasa dan dari mulai hidup susah menjadi mapan. Kenanglah sekilas tentang masa lalumu...!!! jangan lupakan. Karena lewat gelak tawa dan air mata dahulu ADA kebersamaan dan kebahagian. Mungkin kini berjauhan hilang disapu angin malam. Lalu Basah di siram embun semalam. Sebentar Saja,bahkan hanya sedetik saja untuk mengingatkan....bahwa kita tidak sendiri...
Jangan Sombong bila langkah telah terlalu jauh meninggalkan waktu dan yang tertinggal di belakang. Jangan Sombong dan bangga jika kita telah jauh mempunyai orang2 baru.
Sebentar saja.....mengenang bersama dengan orang-orang yang pernah dekat.
Bersyukur………
Saya bersyukur Tuhan belum memberikan sesuatu yang saya cintai mungkin kalau tuhan memberikan sesuatu itu sekarang belum tentu saya dapat menjaga dan merawatnya seperti saya merawat diri saya sendiri.
Demi masa dan waktu sesungguhnya sedikitpun saya tidak pernah melupakan mereka yang pernah dekat dengan saya tapi melainkan berharap suatu saat pada saatnya nanti yang allah tentukan pasti akan dipertemukan kata senada yang saya harapkan dari mereka yang terlupakan dan telah terlupakan sesaat dari hati ini.
Maafkanlah cinta yang tertunda yang allah takdirkan untuk memberikan yang baik dan terbaik untuk buah tanganku tercinta yang kini telah jauh entah dimana adanya kini. Saya bangga dapat mencintai dirimu walapun pada akhirnya nanti saya harus rela kehilanganmu untuk selama-lamanya.
Berkat perjuangan dan doa kita bersama kini kita menjadi berhasil walaupun belum maksimal paling tidak kita telah menunjukan keberadaan kita dari masa ke masa.
Janganlah sekali –kali melupakan sesuatu yang pernah membawa arti dalam hidup kita selama ini karena itu merupakan hal yang lebih menyakitkan daripada harus diingat sepanjang penyasalan dan keterpaksaan
Jangan sekali-kali memberikan harapan dan kesempatan kepada orang yang tidak kau cintai kalau kau tidak dapat menjaga dan memberikan cintanya dengan setulus hatimu.
Terima kasih …………..
dikutip dari artikel yang di buat oleh
Taufan Yoga Hertayana,SKom
Orang bijak mengatakan jagalah cintamu sebelum datang kecewamu.

bangkit

Suatu hari seekor kuda milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Kuda itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, petani itu memutuskan bahwa kuda itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya ) jadi tidak berguna untuk menolong si kuda.Si petani mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si kuda menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si kuda menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si kuda melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan
itu, si kuda terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si kuda meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam tanah dan kotoran. Cara yang harus kita lakukan untuk keluar dari 'sumur' ( masalah, ketidakpuasan, kesusahan, kesedihan, dan sebagainya ) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (batin, pikiran dan perasaan kita ) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan bagi kita untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
Never give up !

Mari kita guncangkan hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!
Mari kita bebaskan pikiran kita dari kebencian
Mari kita bebaskan pikiran kita dari keserakahan
Mari kita bebaskan pikiran kita dari ketidakseimbangan
Mari kita bebaskan pikiran kita dari ketidakbijaksanaan
Mari kita memberi lebih banyak
Mari kita berharap lebih sedikit

" Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !"

Jadilah Orang Yang Paling Bijak Dengan Banyak Membaca

Ana Kustanti
Perpustakaan / Training


Minggu, 11 Mei 2008

dengan hati

DENGAN HATI MENUJU TEMPAT TERTINGGI
Setiap kali bertemu dengan orang yang bercita-cita tinggi, ada sebuah pertanyaan yang sering kali muncul ke permukaan: bidang-bidang apa saja yang peluangnya terbuka di masa depan? Saya pun dulunya dihinggapi pertanyaan serupa. Menerka-nerka bidang yang akan tumbuh pesat di masa depan, untuk kemudian menyesuaikan diri. Cara berpikir ala contingency seperti ini, di mana manusia tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan diri terhadap lingkungan, sudah menjadi warna dominan dalam lahan berpikir manajemen sebagai teknik.
Sebagai akibatnya, manusia didudukan dalam posisi sebagai 'tahanan' lingkungan. Sebuah derajat kehidupan yang serupa dengan kehidupan binatang. Untuk itu, layak dipikirkan agar kita bisa keluar dari perangkap lingkungan. Kemudian, masuk kedalam samudra potensi diri sebagai persiapan dalam menciptakan masa depan. Pertanyaan dasarnya bukanlah 'bidang-bidang apa saja yang akan menjanjikan di masa depan?', melainkan 'dari mana kita sebaiknya menyelami samudra potensi diri sejati, agar kehidupan bisa mengalir selentur aliran air di sungai?'
Menyelami samudra potensi memang bukan perkara sederhana. Pengalaman saya bertutur, ia adalah serangkaian kedalaman, yang ada hanyalah keindahan, ketenangan, kejernihan. Kekuatan-kekuatanluar seperti harta dan takhta, bisa saja menjadi salah satu sarana yang masih dibutuhkan. Namun, ia tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan pendikte yang membuat manusia jadi tidak berdaya dihadapan harta dan takhta. Dalam keyakinan sejumlah orang antara harta dan takhta di satu sisi, dan samudra potensi sebagai tempat dimana kejernihan, kemuliaan dan kelenturan bermukim, cenderung di tempatkan pada dua posisi yang tidak sejalan. Akan tetapi, kehidupan saya dan kehidupan sejumlah bertutur, keduanya bisa berjalan bersama-sama tanpa perlu saling mengorbankan.
Banyak orang bertanya, dari mana mulainya? Seorang seniman besar India yang bernama Kabir pernah mengemukakan, janganlah pergi ke taman, pantai atau gunung. Semuanya sudah ada di sini: di dalam diri. Dalam kesempatan lain, Kabir menulis: 'Aku tertawa, ikan mati kehausan di dalam air'. Apa yang mau dituturkan Kabir dengan seluruh metafora ini, perjalanan menuju ke tempat tertinggi dalam kehidupan, adalah sebuah perjalan ke dalam diri. Seperti ditulis oleh seorang sahabat: 'the only journey is the journey within'. Satu-satunya perjalanan dalam hidup hanyalah perjalanan ke dalam diri.
Perhatian dan pengamatan berlebihan terhadap aspek-aspek luar seperti peluang kerja, mudah sekali membuat manusia tergelincir jauh dari perjalanan menuju ke dalam diri. Saya dan banyak orang sudah mencoba menelusuri jalur-jalur pencaharian ala 'binatang' ini. Menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti, dan kemudian menyesuaikan diri sejak dini. Sebagai hasilnya ada banyak keterasingan yang terjadi. Sepi dalam keramaian. Miskin di tengah kekayaan.
Bercerminlah dari semua ini, sudah lama saya membanting stir pencaharian. Ternyata Kabir betul, di dalam sini tersedia banyak sekali harta dan ketinggian-ketinggian hidup yang mengagumkan. Hebatnya lagi, kalau harta luar harus kita beli dengan harga mahal, harta dan takhta di dalam diri semuanya tersedia gratis. Ia hanya mempersyaratkan satu hal: ketekunan secara rutin untuk berefleksi.
Refleksi terakhir, tentu saja tidak harus meninggalkan keseharian. Melainkan, ia bisa dilakukan secara bersama-sama. Makanya, ada sebuah ungkapan dalam dari seorang guru meditasi. Meditasi demikian ia bertutur, adalah makan ketika lapar, minum ketika haus. Dengan kata lain, seluruh perjalanan hidup ini adalah meditasi. Setiap masalah, kegembiraan dalam perjalanan ini, semuanya membawa pesan-pesan yang layak direnungkan. Pertanyaan titipan saya buat anda, maukah kita mendalami hakikat dari setiap kejadian yang telah lewat? Awalnya, saya juga bertanya ke banyak orang tentang arti dan kejadian-kejadian. Sayangnya, setiap jawaban dari orang lain sering menghadirkan keterasingan baru. Oleh karena alasan inilah maka penting sekali seorang guru di dalam diri ini.
Banyak orang yang sudah mencari guru terakhir. Mungkin ada orang lan yang bisa jadi bertutur lain. Dalam perjalanan saya, guru terbaik terkhir sebenarnya sedang bersembunyi rapi di dalam hati.
Mirip dengan perjalanan ke puncak gunung, perjalanan ke dalam hati juga bisa ditempuh dengan banyak jalan setapak. Anda yang menyusuri jalan-jalan lain, Silakan membuka jalan setapaknya sendiri-sendiri. Dalam jalan yoga yang saya tempuh, dikenal delapan tingkatan yang layak direnungkan. Tingkatan pertama dan kedua adalah kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Dalai Lama dalam The Little Book of Wisdom: 'Compassion is a sign of strengh'. Cinta dan kasih sayang adalah tanda-tanda kekuatan. Ibarat fondasi bangunan, jika fondasi cinta dan kasih sayang sudah tumbuh dalam keseharian, maka bangunan yoga manapun akan lebih kuat.
Tahapan ketiga dan keempat adalah melatih badan kasar ini. Banyak orang melatih badan melalui posisi duduk tertentu atau dengan cara lain. Saya melatihnya dengan mengelola panca indera dan perhatian. Panca indera, sebagaimana kita tahu, adalah kekuatan yang bisa menarik kita ke mana-mana. Cobalah mulai dengan mengelola mulut misalnya, maka banyak hal yang bisa berubah. Demikian juga dengan perhatian, ia adalah mitra aktif dari niat. Bila Anda sering memperhatikan kebenciaan dan kemarahan, secara tidak sengaja Anda meniatkan hidup Anda untuk penuh kebencian dan kemarahan.
Tahap lima dan enam adalah tahap mengelola pernapasan. Banyak sekali tehnik dan pendekatan yang tersedia disini, dan saya pun pernah mencoba berbagai macam tehnik. Dalam kedalaman pemahaman tertentu, inner teacher akan membimbing kita dengan jalan-jalan yang tepat.
Untuk tahapan ketujuh dan kedelapan, inilah tahapan meditasi dan pencerahan. Saya tidak bisa menceritakan wajah tahap ketujuh dan kedelapan ini. Ia berwajah amat unik, berbeda dari satu orang ke orang lain. Setiap bentuk penjelasan melalui kata-kata mudah sekali membawa kita pada pendangkalan-pendangkalan yang tidak perlu. Ia hanya bisa dialami sendiri-sendiri dalam keseharian masing-masing. Halangan terbesarnya adalah pikiran. Makanya ada rekanyang menyebut meditasi sebagai kegiatan melampaui pikiran.
Inilah rangkaian bekal yang saya harapkan bisa membawa Anda ke tempat yang tinggi melalui jalan-jalan hati.Tidak untuk ditiru mentah-mentah, melainkan hanya sebagai pembanding saja. Mengakhiri renungan ringkas ini, Chao-Hsiu Chen dalam The Bamboo Oracle menulis rangkaian makna yang amat menyentuh: with a peaceful heart, things happen by themselves. Dalam hati yang damai, semuanya serba mengalir.

Dengan Hati Menuju Tempat Tertinggi

GEDE PRAMA