DENGAN HATI MENUJU TEMPAT TERTINGGI
Setiap kali bertemu dengan orang yang bercita-cita tinggi, ada sebuah pertanyaan yang sering kali muncul ke permukaan: bidang-bidang apa saja yang peluangnya terbuka di masa depan? Saya pun dulunya dihinggapi pertanyaan serupa. Menerka-nerka bidang yang akan tumbuh pesat di masa depan, untuk kemudian menyesuaikan diri. Cara berpikir ala contingency seperti ini, di mana manusia tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan diri terhadap lingkungan, sudah menjadi warna dominan dalam lahan berpikir manajemen sebagai teknik.
Sebagai akibatnya, manusia didudukan dalam posisi sebagai 'tahanan' lingkungan. Sebuah derajat kehidupan yang serupa dengan kehidupan binatang. Untuk itu, layak dipikirkan agar kita bisa keluar dari perangkap lingkungan. Kemudian, masuk kedalam samudra potensi diri sebagai persiapan dalam menciptakan masa depan. Pertanyaan dasarnya bukanlah 'bidang-bidang apa saja yang akan menjanjikan di masa depan?', melainkan 'dari mana kita sebaiknya menyelami samudra potensi diri sejati, agar kehidupan bisa mengalir selentur aliran air di sungai?'
Menyelami samudra potensi memang bukan perkara sederhana. Pengalaman saya bertutur, ia adalah serangkaian kedalaman, yang ada hanyalah keindahan, ketenangan, kejernihan. Kekuatan-kekuatanluar seperti harta dan takhta, bisa saja menjadi salah satu sarana yang masih dibutuhkan. Namun, ia tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan pendikte yang membuat manusia jadi tidak berdaya dihadapan harta dan takhta. Dalam keyakinan sejumlah orang antara harta dan takhta di satu sisi, dan samudra potensi sebagai tempat dimana kejernihan, kemuliaan dan kelenturan bermukim, cenderung di tempatkan pada dua posisi yang tidak sejalan. Akan tetapi, kehidupan saya dan kehidupan sejumlah bertutur, keduanya bisa berjalan bersama-sama tanpa perlu saling mengorbankan.
Banyak orang bertanya, dari mana mulainya? Seorang seniman besar
Perhatian dan pengamatan berlebihan terhadap aspek-aspek luar seperti peluang kerja, mudah sekali membuat manusia tergelincir jauh dari perjalanan menuju ke dalam diri. Saya dan banyak orang sudah mencoba menelusuri jalur-jalur pencaharian ala 'binatang' ini. Menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti, dan kemudian menyesuaikan diri sejak dini. Sebagai hasilnya ada banyak keterasingan yang terjadi. Sepi dalam keramaian. Miskin di tengah kekayaan.
Bercerminlah dari semua ini, sudah lama saya membanting stir pencaharian. Ternyata Kabir betul, di dalam sini tersedia banyak sekali harta dan ketinggian-ketinggian hidup yang mengagumkan. Hebatnya lagi, kalau harta luar harus kita beli dengan harga mahal, harta dan takhta di dalam diri semuanya tersedia gratis. Ia hanya mempersyaratkan satu hal: ketekunan secara rutin untuk berefleksi.
Refleksi terakhir, tentu saja tidak harus meninggalkan keseharian. Melainkan, ia bisa dilakukan secara bersama-sama. Makanya, ada sebuah ungkapan dalam dari seorang guru meditasi. Meditasi demikian ia bertutur, adalah makan ketika lapar, minum ketika haus. Dengan kata lain, seluruh perjalanan hidup ini adalah meditasi. Setiap masalah, kegembiraan dalam perjalanan ini, semuanya membawa pesan-pesan yang layak direnungkan. Pertanyaan titipan saya buat anda, maukah kita mendalami hakikat dari setiap kejadian yang telah lewat? Awalnya, saya juga bertanya ke banyak orang tentang arti dan kejadian-kejadian. Sayangnya, setiap jawaban dari orang lain sering menghadirkan keterasingan baru. Oleh karena alasan inilah maka penting sekali seorang guru di dalam diri ini.
Banyak orang yang sudah mencari guru terakhir. Mungkin ada orang lan yang bisa jadi bertutur lain. Dalam perjalanan saya, guru terbaik terkhir sebenarnya sedang bersembunyi rapi di dalam hati.
Mirip dengan perjalanan ke puncak gunung, perjalanan ke dalam hati juga bisa ditempuh dengan banyak jalan setapak. Anda yang menyusuri jalan-jalan lain, Silakan membuka jalan setapaknya sendiri-sendiri. Dalam jalan yoga yang saya tempuh, dikenal delapan tingkatan yang layak direnungkan. Tingkatan pertama dan kedua adalah kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Dalai Lama dalam The Little Book of Wisdom: 'Compassion is a sign of strengh'. Cinta dan kasih sayang adalah tanda-tanda kekuatan. Ibarat fondasi bangunan, jika fondasi cinta dan kasih sayang sudah tumbuh dalam keseharian, maka bangunan yoga manapun akan lebih kuat.
Tahapan ketiga dan keempat adalah melatih badan kasar ini. Banyak orang melatih badan melalui posisi duduk tertentu atau dengan cara lain. Saya melatihnya dengan mengelola panca indera dan perhatian. Panca indera, sebagaimana kita tahu, adalah kekuatan yang bisa menarik kita ke mana-mana. Cobalah mulai dengan mengelola mulut misalnya, maka banyak hal yang bisa berubah. Demikian juga dengan perhatian, ia adalah mitra aktif dari niat. Bila Anda sering memperhatikan kebenciaan dan kemarahan, secara tidak sengaja Anda meniatkan hidup Anda untuk penuh kebencian dan kemarahan.
Tahap
Untuk tahapan ketujuh dan kedelapan, inilah tahapan meditasi dan pencerahan. Saya tidak bisa menceritakan wajah tahap ketujuh dan kedelapan ini. Ia berwajah amat unik, berbeda dari satu orang ke orang lain. Setiap bentuk penjelasan melalui kata-kata mudah sekali membawa kita pada pendangkalan-pendangkalan yang tidak perlu. Ia hanya bisa dialami sendiri-sendiri dalam keseharian masing-masing. Halangan terbesarnya adalah pikiran. Makanya ada rekanyang menyebut meditasi sebagai kegiatan melampaui pikiran.
Inilah rangkaian bekal yang saya harapkan bisa membawa Anda ke tempat yang tinggi melalui jalan-jalan hati.Tidak untuk ditiru mentah-mentah, melainkan hanya sebagai pembanding saja. Mengakhiri renungan ringkas ini, Chao-Hsiu Chen dalam The Bamboo Oracle menulis rangkaian makna yang amat menyentuh: with a peaceful heart, things happen by themselves. Dalam hati yang damai, semuanya serba mengalir.
Dengan Hati Menuju Tempat Tertinggi
GEDE PRAMA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar