Senin, 12 Mei 2008
Kita: Manusia atau Hewan?
Memahami Arti Hidup
hayatulislam.net – Banyak orang tidak paham untuk apa ia hidup didunia ini, sehingga kehidupannya bebas tanpa batas seperti yang kita lihat dalam masyarakat Barat atau dinegara kita sendiri. Mereka biasa berhubungan seksual tanpa melewati pernikahan, mengambil harta yang bukan haknya, membunuh, menipu, merampok, berpakaian telanjang, makan dan minum yang haram.
Orang-orang seperti diatas disebut tidak memahami arti hidup. Bagaimana seseorang mampu memahami arti hidup?, maka ia harus mampu memecahkan tiga persoalan mendasar berikut:
Untuk apa saya hidup didunia ini?
Kemana saya setelah mati? Darimana saya berasal?
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (Al-Mukminun 12-14).
(Dialah Tuhan) yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina (mani) (As-Sajdah 7).
Dan banyak ayat dan hadist lain yang menjelaskan bahwa Allah swt yang menciptakan kita, perkawinan, kehamilan dan kelahiran merupakan perantara saja dari proses penciptaan manusia oleh Allah swt. Untuk apa saya hidup didunia ini? Allah swt secara tegas menyatakan bahwa Ia menciptakan kita semata-mata untuk menyembah-Nya, artinya menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah-Ku (Adz-Dzaariyat 56).
Seorang manusia pada saat mencapai baligh, maka semua hukum syara’ (syari’at Islam) terbebani kepada dirinya (taklif). Ia harus tahu perintah yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan. Setiap gerak langkahnya harus diukur dari kacamata syari’at, dia wajib menjalankan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, kewajiban sebagai suami dan istri, kewajiban menutup aurat, makanan yang halal, menghindari mengambil yang bukan haknya (suap, komisi, dan lain-lain.), tidak mengambil riba, kewajiban da’wah, jihad, dan lain-lain.
Mereka bisa saja mengaku beragama Islam tetapi tidak menjalankan perintah agama, bahkan ibadah ritual seperti: shalat, puasa, zakat dan haji-pun tidak dilakukan. Padahal Islam tidak sebatas ibadah ritual semata, Islam mengatur seluruh sisi kehidupan kita, seperti: sistem sosial (mu’amalah), ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), peradilan dan sanksi (‘uqubat), dan lain-lain.
Syari’at Islam melalui Al-Quran dan sunnah tidak akan melewatkan satu hal-pun dalam mengatur kehidupan manusia, karena aturan tersebut datang dari Sang Maha Pencipta yang tahu persis kebutuhan manusia dari dulu, sekarang dan akan datang.
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian (Al-Maidah 3).
Mereka yang memahami arti hidup maka setiap gerak langkahnya dalam mengarungi kehidupan selalu mengacu kepada syari’at, ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat, lebih baik menunda sejenak dalam berbuat sebelum ia tahu persis apakah hal tersebut halal atau haram. Inilah manusia yang bertaqwa dan akan selamat dalam menempuh kehidupan dunia serta beruntung diakhirat nanti.
Orang-orang yang mengabaikan syari’at Allah swt, merekalah orang yang merugi karena mereka telah mengorbankan kehidupan akhirat yang abadi dengan mengutamakan kehidupan dunia yang sementara. Rasulullah saw menganalogikan kehidupan dunia “Bagaikan berteduh sejenak dibawah pohon (dunia) dalam menempuh perjalanan panjang yang abadi (akhirat)”. Kehidupan dunia bagaikan senda gurau belaka yang menyilaukan dan seharusnya akhiratlah tujuan utama kita.
Hai orang-orang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al-Munafiqun 9).
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am 32).
Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya (An-Nazi’at 37-41). Kemana saya setelah mati? Setiap jiwa pasti mati dan jika sudah tiba saatnya (ajal) tidak akan dimajukan atau dimundurkan sedetik-pun, saat inilah sudah terlambat untuk bertaubat.
Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila ajal itu sudah datang tidak dapat mereka meminta diundurkan atau dimajukan sesaat juapun (Al-A’raf 34).
Dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku beramal dahulu untuk hidupku ini” (Al-Fajr 24).
Ketika kita dibangkitkan diakhirat nanti, semua yang kita lakukan didunia akan dihisab satu persatu, tidak terkecuali, dosa kecil maupun besar, pahala kecil maupun besar. Keputusannya hanya dua syurga atau neraka.
Tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya (Al-Mudatsir 38).
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentu kami tidak termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ini” (Al-Mulk 10).
Akhirul kalam, jika kita memahami arti hidup maka kita harus mengutamakan kehidupan akhirat karena dunia ini persinggahan sementara dari perjalanan panjang kehidupan kita. Kehidupan dunia harus digunakan untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan abadi diakhirat nanti.
Paku
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki ini akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut. Sang ayah menuntun anaknya ke pagar. Kau telah berhasil dengan baik, anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini.Pagar ini tidak pernah bisa sama seperti sebelumnya.
Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang lalu mencabut pisau itu, tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu tetap ada. Luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik.
Yang Pernah Terlupakan
Ataukah pernah air mata tumpah bersama tergenang Saat luka mengenang rasa??? Sebentar saja.....atau mungkin sedetik saja......ingatlah bahwa kita telah lupa bahwa kita pernah berjalan bersama ataupun pernah memiliki orang terdekat yang sekarang terlupakan. Sesuatu yang telah berlalu bukan untuk dilupakan tetapi dikenang karena melalui itu segala keberadaan kita dibentuk dari mulai polos sampai dewasa dan dari mulai hidup susah menjadi mapan. Kenanglah sekilas tentang masa lalumu...!!! jangan lupakan. Karena lewat gelak tawa dan air mata dahulu ADA kebersamaan dan kebahagian. Mungkin kini berjauhan hilang disapu angin malam. Lalu Basah di siram embun semalam. Sebentar Saja,bahkan hanya sedetik saja untuk mengingatkan....bahwa kita tidak sendiri...
Jangan Sombong bila langkah telah terlalu jauh meninggalkan waktu dan yang tertinggal di belakang. Jangan Sombong dan bangga jika kita telah jauh mempunyai orang2 baru.
Sebentar saja.....mengenang bersama dengan orang-orang yang pernah dekat.
Bersyukur………
Saya bersyukur Tuhan belum memberikan sesuatu yang saya cintai mungkin kalau tuhan memberikan sesuatu itu sekarang belum tentu saya dapat menjaga dan merawatnya seperti saya merawat diri saya sendiri.
Demi masa dan waktu sesungguhnya sedikitpun saya tidak pernah melupakan mereka yang pernah dekat dengan saya tapi melainkan berharap suatu saat pada saatnya nanti yang allah tentukan pasti akan dipertemukan kata senada yang saya harapkan dari mereka yang terlupakan dan telah terlupakan sesaat dari hati ini.
Maafkanlah cinta yang tertunda yang allah takdirkan untuk memberikan yang baik dan terbaik untuk buah tanganku tercinta yang kini telah jauh entah dimana adanya kini. Saya bangga dapat mencintai dirimu walapun pada akhirnya nanti saya harus rela kehilanganmu untuk selama-lamanya.
Berkat perjuangan dan doa kita bersama kini kita menjadi berhasil walaupun belum maksimal paling tidak kita telah menunjukan keberadaan kita dari masa ke masa.
Janganlah sekali –kali melupakan sesuatu yang pernah membawa arti dalam hidup kita selama ini karena itu merupakan hal yang lebih menyakitkan daripada harus diingat sepanjang penyasalan dan keterpaksaan
Jangan sekali-kali memberikan harapan dan kesempatan kepada orang yang tidak kau cintai kalau kau tidak dapat menjaga dan memberikan cintanya dengan setulus hatimu.
Terima kasih …………..
Taufan Yoga Hertayana,SKom
bangkit
Suatu hari seekor kuda milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Kuda itu menangis dengan
Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si kuda
itu, si kuda terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam tanah dan
Never give up !
Mari kita bebaskan pikiran kita dari kebencian
Mari kita bebaskan pikiran kita dari keserakahan
Mari kita bebaskan pikiran kita dari ketidakseimbangan
Mari kita bebaskan pikiran kita dari ketidakbijaksanaan
Mari kita memberi lebih banyak
Mari kita berharap lebih sedikit
" Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya
Ana Kustanti
Perpustakaan / Training
Minggu, 11 Mei 2008
dengan hati
DENGAN HATI MENUJU TEMPAT TERTINGGI
Setiap kali bertemu dengan orang yang bercita-cita tinggi, ada sebuah pertanyaan yang sering kali muncul ke permukaan: bidang-bidang apa saja yang peluangnya terbuka di masa depan? Saya pun dulunya dihinggapi pertanyaan serupa. Menerka-nerka bidang yang akan tumbuh pesat di masa depan, untuk kemudian menyesuaikan diri. Cara berpikir ala contingency seperti ini, di mana manusia tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan diri terhadap lingkungan, sudah menjadi warna dominan dalam lahan berpikir manajemen sebagai teknik.
Sebagai akibatnya, manusia didudukan dalam posisi sebagai 'tahanan' lingkungan. Sebuah derajat kehidupan yang serupa dengan kehidupan binatang. Untuk itu, layak dipikirkan agar kita bisa keluar dari perangkap lingkungan. Kemudian, masuk kedalam samudra potensi diri sebagai persiapan dalam menciptakan masa depan. Pertanyaan dasarnya bukanlah 'bidang-bidang apa saja yang akan menjanjikan di masa depan?', melainkan 'dari mana kita sebaiknya menyelami samudra potensi diri sejati, agar kehidupan bisa mengalir selentur aliran air di sungai?'
Menyelami samudra potensi memang bukan perkara sederhana. Pengalaman saya bertutur, ia adalah serangkaian kedalaman, yang ada hanyalah keindahan, ketenangan, kejernihan. Kekuatan-kekuatanluar seperti harta dan takhta, bisa saja menjadi salah satu sarana yang masih dibutuhkan. Namun, ia tidak lagi menjadi satu-satunya kekuatan pendikte yang membuat manusia jadi tidak berdaya dihadapan harta dan takhta. Dalam keyakinan sejumlah orang antara harta dan takhta di satu sisi, dan samudra potensi sebagai tempat dimana kejernihan, kemuliaan dan kelenturan bermukim, cenderung di tempatkan pada dua posisi yang tidak sejalan. Akan tetapi, kehidupan saya dan kehidupan sejumlah bertutur, keduanya bisa berjalan bersama-sama tanpa perlu saling mengorbankan.
Banyak orang bertanya, dari mana mulainya? Seorang seniman besar
Perhatian dan pengamatan berlebihan terhadap aspek-aspek luar seperti peluang kerja, mudah sekali membuat manusia tergelincir jauh dari perjalanan menuju ke dalam diri. Saya dan banyak orang sudah mencoba menelusuri jalur-jalur pencaharian ala 'binatang' ini. Menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti, dan kemudian menyesuaikan diri sejak dini. Sebagai hasilnya ada banyak keterasingan yang terjadi. Sepi dalam keramaian. Miskin di tengah kekayaan.
Bercerminlah dari semua ini, sudah lama saya membanting stir pencaharian. Ternyata Kabir betul, di dalam sini tersedia banyak sekali harta dan ketinggian-ketinggian hidup yang mengagumkan. Hebatnya lagi, kalau harta luar harus kita beli dengan harga mahal, harta dan takhta di dalam diri semuanya tersedia gratis. Ia hanya mempersyaratkan satu hal: ketekunan secara rutin untuk berefleksi.
Refleksi terakhir, tentu saja tidak harus meninggalkan keseharian. Melainkan, ia bisa dilakukan secara bersama-sama. Makanya, ada sebuah ungkapan dalam dari seorang guru meditasi. Meditasi demikian ia bertutur, adalah makan ketika lapar, minum ketika haus. Dengan kata lain, seluruh perjalanan hidup ini adalah meditasi. Setiap masalah, kegembiraan dalam perjalanan ini, semuanya membawa pesan-pesan yang layak direnungkan. Pertanyaan titipan saya buat anda, maukah kita mendalami hakikat dari setiap kejadian yang telah lewat? Awalnya, saya juga bertanya ke banyak orang tentang arti dan kejadian-kejadian. Sayangnya, setiap jawaban dari orang lain sering menghadirkan keterasingan baru. Oleh karena alasan inilah maka penting sekali seorang guru di dalam diri ini.
Banyak orang yang sudah mencari guru terakhir. Mungkin ada orang lan yang bisa jadi bertutur lain. Dalam perjalanan saya, guru terbaik terkhir sebenarnya sedang bersembunyi rapi di dalam hati.
Mirip dengan perjalanan ke puncak gunung, perjalanan ke dalam hati juga bisa ditempuh dengan banyak jalan setapak. Anda yang menyusuri jalan-jalan lain, Silakan membuka jalan setapaknya sendiri-sendiri. Dalam jalan yoga yang saya tempuh, dikenal delapan tingkatan yang layak direnungkan. Tingkatan pertama dan kedua adalah kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Dalai Lama dalam The Little Book of Wisdom: 'Compassion is a sign of strengh'. Cinta dan kasih sayang adalah tanda-tanda kekuatan. Ibarat fondasi bangunan, jika fondasi cinta dan kasih sayang sudah tumbuh dalam keseharian, maka bangunan yoga manapun akan lebih kuat.
Tahapan ketiga dan keempat adalah melatih badan kasar ini. Banyak orang melatih badan melalui posisi duduk tertentu atau dengan cara lain. Saya melatihnya dengan mengelola panca indera dan perhatian. Panca indera, sebagaimana kita tahu, adalah kekuatan yang bisa menarik kita ke mana-mana. Cobalah mulai dengan mengelola mulut misalnya, maka banyak hal yang bisa berubah. Demikian juga dengan perhatian, ia adalah mitra aktif dari niat. Bila Anda sering memperhatikan kebenciaan dan kemarahan, secara tidak sengaja Anda meniatkan hidup Anda untuk penuh kebencian dan kemarahan.
Tahap
Untuk tahapan ketujuh dan kedelapan, inilah tahapan meditasi dan pencerahan. Saya tidak bisa menceritakan wajah tahap ketujuh dan kedelapan ini. Ia berwajah amat unik, berbeda dari satu orang ke orang lain. Setiap bentuk penjelasan melalui kata-kata mudah sekali membawa kita pada pendangkalan-pendangkalan yang tidak perlu. Ia hanya bisa dialami sendiri-sendiri dalam keseharian masing-masing. Halangan terbesarnya adalah pikiran. Makanya ada rekanyang menyebut meditasi sebagai kegiatan melampaui pikiran.
Inilah rangkaian bekal yang saya harapkan bisa membawa Anda ke tempat yang tinggi melalui jalan-jalan hati.Tidak untuk ditiru mentah-mentah, melainkan hanya sebagai pembanding saja. Mengakhiri renungan ringkas ini, Chao-Hsiu Chen dalam The Bamboo Oracle menulis rangkaian makna yang amat menyentuh: with a peaceful heart, things happen by themselves. Dalam hati yang damai, semuanya serba mengalir.
Dengan Hati Menuju Tempat Tertinggi
GEDE PRAMA
Bismillaahirrahmaanirrahiim
dan Kami turunkan dari awan-awan itu air yang tercurah (hujan)
supaya Kami keluarkan (tumbuhan) dengan biji-bijian dan tanam-tanaman
dan kebun-kebun yang berlapis-lapis
[ 78 : 14-16 ]
sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi
yang menciptakan, lalu membuatnya sempurna
yang menentukan, lalu memberi petunjuk
yang menumbuhkan rumput-rumputan
lalu Dia menjadikan kering yang berubah (warnanya)
Kami akan membacakan kepadamu (Al Quran) maka engkau tidak akan lupa
melainkan jika Allah menghendaki
sesungguhnya Dia mengetahui yang nyata dan apa yang tersembunyi
dan Kami akan memudahkanmu kepada (agama) yang mudah
maka berilah peringatan karena peringatan itu memberi manfaat
orang-orang yang takut (kepada) Allah, akan menerima peringatan
dan akan menjauhi (peringatan) itu orang-orang yang celaka
(yaitu) orang yang akan memasuki neraka yang besar
kemudian didalamnya dia tidak mati dan tidak (pula) hidup
sungguh beruntunglah orang yang mensucikan dirinya
dan yang mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat
tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan di dunia
dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal
[ 87 : 1-17 ]
"Subhânallâh wal-hamdulillâh wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar"