Senin, 12 Mei 2008

Kita: Manusia atau Hewan?

Kebanyakan manusia di dunia ini bertingkah laku seperti hewan. Mereka hidup secara bebas, sekehendaknya, semaunya, seenaknya, tidak mau diatur. Mereka memperturutkan logika dan hawa nafsunya, melupakan hukum dan aturan Allah SWT. Jika mereka makan dan minum, mereka tidak peduli mana makanan/minuman yang halal mana makanan/minuman yang haram. Jika mereka berhubungan seksual, mereka tidak malu melakukannya dengan siapa saja. Jika mereka mencari rezeki, mereka tidak ragu melakukan kejahatan seperti mencuri, korupsi dan kolusi.Jika mereka orang kuat; misalnya presiden, menteri, anggota DPR, gubernur, bupati, camat, lurah, mereka tidak membela rakyatnya yang lemah, malah menindasnya. Jika mereka orang kaya, orang terkenal, mereka lupa terhadap orang miskin. Jika mereka orang pintar, orang terhormat, orang kota, mereka melecehkan dan menghinakan orang bodoh, orang miskin dan orang pinggiran.Dalam komunitas hewan, yang kuat biasanya yang menjajah, menguasai dan mengontrol yang lemah. Dalam komunitas manusia juga. Lihat saja negara Dajjal Amerika Serikat. Karena negara itu kuat; punya tentara banyak, senjata canggih, teknologi modern, mereka menjajah, menguasai dan mengontrol negara Afghanistan, Irak, dan lainnya. Negara Israel juga. Negara itu menjajah, menguasai dan mengontrol Palestina. Apa akibatnya kalau manusia sudah bertingkah laku seperti hewan? Jawabannya adalah kerusakan dan kehancuran.Tentang manusia yang seperti hewan, Allah SWT berfirman didalam Al Qur’an surat Al A’raf (7) ayat 179 yang artinya:Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka memiliki qulub, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayatAllah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (kebenaran dan kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayatAllah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalaiAhli tafsir Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tadi dengan menyatakan bahwa Allah SWT menyediakan jahannam bagi manusia yang melakukan perbuatan-perbuatan penghuni jahannam. Mereka demikian dikarenakan alat indera yang sebenarnya telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai jalan datangnya hidayah tersebut tidak bermanfaat bagi mereka. Sebab, mereka itu buta, tuli, dan bisu dari mengikuti petunjuk dari Allah SWT. Mereka yang tidak mendengarkan dan mengikuti kebenaran dan petunjuk (Islam) laksana hewan berjalan yang alat-alat inderanya tadi tidak bermanfaat sedikitpun kecuali untuk perkara-perkara yang diperlukannya secara lahiriyah di dunia. Mereka ketika diseru untuk beriman tidak mengindahkannya. Persis seperti hewan ketika diseru oleh penggembalanya hanya menyahut dengan suaranya saja tanpa memahami makna seruan si penggembalanya tersebut. Bahkan, mereka lebih sesat dari binatang. Binatang diciptakan Allah SWT untuk dipergunakan manusia demi kepentingannya, dan hewan memenuhinya. Sedangkan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, namun manusia malaj kufur kepada-Nya.

Tidak ada komentar: